fbpx
Tips

Cara Mengatasi Trauma pada Anak Korban Gempa dan Tsunami

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
Seorang anak di antara puing dan reruntuhan setelah gempa dan tsunami melanda Palu dan Donggala (Foto: Liputan6.com)
177views

Gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9) lalu meninggalkan duka dan perasaan traumatis yang dalam. Ribuan rumah rusak parah. Bahkan banyak di antaranya yang “ditelan” bumi karena gempa likuifaksi. Lebih dari seribu orang meninggal dunia.

Pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan bergerak cepat untuk membantu para korban. Makanan, obat-obatan, pakaian, dan berbagai barang kebutuhan disalurkan. Demikian juga bimbingan dan pendampingan psikologis untuk menghilangkan trauma.

Dalam hal pendampingan psikologis, anak-anak menjadi perhatian tersendiri. Mereka adalah korban dengan trauma yang paling besar. Gempa, tsunami, rumah roboh, bangunan ambruk, dan mayat bergelimpangan di depan mata mereka jelas membuat mereka takut dan trauma.

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Kompas.com)

Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), mengatakan bahwa ada lebih dari 100 ribu siswa yang terdampak langsung bencana gempa dan tsunami. Sementara tenaga pendidik yang terdampak berjumlah lebih dari 20 ribu orang. Dan sebanyak 2.736 sekolah rusak parah.

“Yang terdampak 20.000 lebih guru. Kalau siswa 100.000 lebih,” katanya di Sahid J-Walk Mall, Sleman, Rabu (3/10), seperti dilansir detikcom.

Memberikan bimbingan dan pendampingan kepada anak-anak yang menjadi korban gempa dan tsunami memang tidaklah mudah. Usaha ini harus dilakukan secara perlahan dan terus-menerus. Beberapa cara berikut ini bisa dilakukan:

Yakinkan mereka bahwa mereka akan baik-baik saja

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Liputan6.com)

Ini penting. Anda bisa menceritakan kepada mereka apa yang sedang terjadi. Namun, Anda harusmeyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian. Anda harus mengatakan kepada mereka bahwa Anda akan selalu ada untuk menjaga dan melindungi mereka. Dan katakan dengan tegas bahwa mereka akan baik-baik saja.

Biarkan anak mengekspresikan perasaannya

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Liputan6.com)

Anda harus tahu bahwa perasaan traumatis seorang anak tidak mudah hilang. Perasaan itu bisa sangat mempengaruhinya, bahkan hingga dia tumbuh dewasa. Oleh karena itu, lakukan berbagai cara agar anak bisa sembuh dari perasaan traumatisnya. Salah satunya adalah dengan membiarkan dia mengekspresikan perasaannya dengan cara apa pun. Jika dia ingin meluapkan ketakutannya, biarkan. Jika dia ingin bermain, melukis, atau melakukan hal lain, biarkan sambil tetap memperhatikannya.

Baca :   Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

Perhatikan gejala stres

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Liputan6.com)

Reaksi seorang anak terhadap peristiwa negatif seperti bencana alam berbeda dengan anak lainnya. Bisa saja terjadi bahwa ada anak yang menunjukkan reaksi berbeda seperti sulit tidur, tidak punya nafsu makan, takut tidur sendirian, menangis terus-menerus, ingin menyendiri, dan lainnya. Itu adalah gejala anak stress. Dan Anda harus memperhatikan semua gejala itu. Jika keadaan mereka semakin memburuk, mintalah bantuan pada psikolog atau orang lain yang lebih berpengalaman dalam mengatasi trauma pada anak.

Jangan diam

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Antara Foto)

Anda berpikir bahwa tidak berbicara tentang apa yang telah terjadi adalah jalan terbaik? Belum tentu! Ingatlah bahwa anak bisa saja mendengar hal itu dari orang lain tanpa ada filter atau bimbingan terlebih dahulu. Hal ini bisa sangat berbahaya. Jadi, cara terbaik adalah bercerita tentang apa yang terjadi. Ajaklah anak berbicara. Dan jelaskan atau ceritakan hal itu sesuai dengan bahasa dan daya tangkap mereka.

Stop menonton tayangan tentang bencana

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: detikcom)

Anda harus tahu bahwa nenonton tayangan di televisi yang memperlihatkan seperti apa bencana alam dapat memperkuat trauma anak-anak. Apa yang ditampilkan di televisi dapat meningkatkan kecemasan dan ketakutannya. Oleh karena itu, larang anak untuk menonton tayangan seperti itu.

Orang tua harus menjadi contoh

Cara mengatasi trauma pada anak korban gempa dan tsunami
(Foto: Tribunnews.com)

Bagaimana sikapmu sebagai orang tua ketika menghadapi bencana? Bagaimana reaksimu? Kamu harus tahu bahwa sikap dan reaksimu dilihat dan diperhatikan anak-anakmu. Jika kamu hancur, mereka bisa lebih hancur. Jika kamu tegas dan optimistis, mereka punya alasan untuk optimistis. Jadi, jadilah orang tua yang baik dengan memberikan contoh yang baik.