Teknologi

Pendiri Google Ini Ingin Hidup Selamanya

Pendiri Google ingin hidup selamanya
Sergey Brin, salah satu pendiri Google (Foto: real-leaders.com)
85views

Salah satu ambisi besar teknologi adalah bagaimana membuat manusia tidak dapat mati. Jika ternyata tidak bisa, sekurang-kurangnya manusia hidup lebih lama. Lebih lama daripada “umur rata-rata” manusia modern.

Sergey Brin, salah satu pendiri Google, adalah salah satu orang yang ingin “mengalahkan” penuaan dan kematian manusia itu. Lelaki berusia 44 tahun ini merasa bahwa fenomena penuaan dan kematian manusia bisa diatasi. Dan yang bisa melakukannya adalah teknologi.

Salah satu langkah yang ia lakukan untuk memenuhi ambisinya ini adalah mendukung gerakan National Academy of Medicine. Akademi ini fokus pada riset untuk menghentikan penuaan selamanya. Dilansir dari Daily Mail, sudah banyak tokoh papan atas dan pesohor yang terlibat dalam gerakan ini. Aktris Goldie Hawn dan musisi Moby adalah beberapa di antaranya. Untuk menjalankan riset itu, akademi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sekitar USD25 juta atau setara dengan Rp360 miliar.

Pendiri Google ingin hidup selamanya
Ilustrasi kematian (Foto: Istimewa)

Calico untuk Umur Panjang
Sebenarnya sudah lama Google punya ambisi untuk menjadi “Tuhan” atas kehidupan. Caranya adalah menciptakan teknologi baru yang memungkinkan manusia bisa hidup lebih lama.

Pada 2013 lalu, sebuah anak perusahaan bernama Calico (California Life Company) diluncurkan. Itu adalah sebuah perusahaan kesehatan yang fokus kepada penuaan, penyakit yang terkait dengan lanjut usia, dan umur panjang. Dana sebesar USD1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun dikucurkan Google untuk membiayai dana riset Calico.

Can Google Solve Death? adalah judul ulasan Times. Sebuah judul yang sangat provokatif. Apakah dengan mengucurkan dana triliunan rupiah itu, Google bisa memecahkan masalah kematian?

Pendiri Google ingin hidup selamanya
Ilustrasi (Foto: znaj.ua)

Sejatinya Calico belum mengembangkan produk kesehatan atau pun bioteknologi. Yang dilakukan Calico baru berupa riset tentang bagaimana asupan kalori mempengaruhi kesehatan keseluruhan seekor tikus. Riset itu dilakukan pada 750 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok dengan asupan diet yang berbeda.

Tidak sedikit yang menyindir Google ketika meluncurkan Calico. Salah satunya adalah Yuval Noah Harari, sejarawan dari Israel yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Sapiens. Dalam bukunya yang berjudul Homo Deus, Harari menulis bahwa Google tidak akan bisa menyelesaikan masalah kematian pada waktunya untuk membuat Brin dan pendiri Google lainnya, Larry Page, dapat hidup selamanya.

Jadi, dapatkah Google memecahkan masalah kematian itu? Brin merespons sindiran Yuval dengan berkata, “Saya tidak berencana untuk mati.”