fbpx
Olahraga

Pembunuh Para Raksasa Itu Bernama Ginting

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Anthony Sinisuka Ginting dijuluki "The Giant Kiler" (Foto: Dok. Humas PBSI)
171views

China Open 2018 sudah berakhir Minggu (23/9) lalu. Para seniman bulutangkis sudah menampilkan permainan hebat mereka dalam ajang yang dihelat sejak Selasa (18/9) lalu itu. Satu demi satu pemain unggulan, para jawara, bertumbangan dalam ajang dengan total hadiah mencapai Rp1 triliun ini.

Dari ajang ini, penampilan Anthony Sinisuka Ginting menjadi sorotan. Tidak hanya oleh publik bulutangkis Indonesia, tetapi juga China. Dan mungkin dunia. Semuanya kagum pada perjuangannya sejak babak awal hingga akhirnya naik podium juara.

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Netting-nya kerap menyulitkan lawan (Foto: Dok. Humas PBSI)

Sejak babak 32 besar, perjalanannya tidak mudah. Bahkan sangat sulit jika dibandingkan dengan tunggal putra nonunggulan lainnya karena yang dihadapinya adalah “para dewa” tunggal putra. Yang ditantangnya adalah para juara dunia dan olimpiade. Mulai dari Lin Dan hingga Kento Momota.

Pada babak 32 besar, ia menghadapi Lin Dan. Pebulutangkis unggulan China itu adalah juara dunia 5 kali dan peraih 2 medali emas olimpiade. Legenda China itu ia kalahkan dalam pertarungan 3 game. Ia bahkan mengakhiri perlawanan Lin Dan pada game kedua dengan skor 21-5.

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Ginting “membunuh” 4 orang juara dunia untuk menjadi juara (Foto: Dok. Humas PBSI)

Setelah melewati hadangan Lin Dan, ia menghadapi Viktor Axelsen. Juara dunia dari Denmark itu pernah mengalahkannya pada Jepang Terbuka 2018 beberapa hari sebelumnya. Banyak orang memprediksi bahwa langkahnya akan terhenti pada babak 16 besar ini. Ternyata tidak. Ia membalikkan prediksi dengan melibas peringkat 1 dunia itu dalam dua game langsung.

Pada babak 8 besar, ia menghadapi wakil Tiongkok lainnya yang juga satu tidak kalah kuatnya: Chen Long. Dia adalah juara dunia 2014 dan 2015. Setelah sempat tertinggal 18-21 pada game pertama, ia bangkit pada dua game berikutnya dan mengubur mimpi Chen Long untuk mempertahankan statusnya sebagai juara bertahan. Ia menang dengan skor 22-20 dan 21-16.

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Ginting adalah satu-satunya wakil Indonesia yang juara dalam kejuaraan ini (Foto: Dok. Humas PBSI)

Chou Tien Chen yang dihadapinya pada babak semifinal memang bukan seorang juara dunia. Namun, pebulutangkis dari China Taipei itu adalah pemenang Singapore Open 2018 dan German Open 2018. Pemain berusia 28 tahun itu jugalah yang menghentikan langkahnya untuk menciptakan all Indonesian final pada ajang Asian Games 2018 lalu.

Baca :   Putra Mahkota Arab Saudi Ingin Segera Akuisi Manchester United

Sekali lagi Ginting ditantang. Dan sekali lagi pula Ginting menunjukkan kekuatan mental dan fisiknya. Ia mengakhiri langkah Chou Tien Chen dalam 3 game.

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Ginting bersama pelatihnya, Hendry Saputra (Foto: Dok. Humas PBSI)

Dengan menghentikan langkah Lin Dan, Victor Axelsen, dan Chen Long, berarti Ginting sudah “membunuh” 3 orang juara dunia; “membunuh” 3 raksasa tunggal putra. Tinggal satu lagi yang harus “dibunuh”-nya untuk menjadi yang terbaik: Kento Momota.

Momota memang diunggulkan untuk meraih juara sejak awal. Dia adalah Juara Dunia 2018. Salah satu tunggal putra yang paling ditakuti saat ini. Namun, publik bulutangkis melihat bahwa meremehkan Ginting adalah masalah besar. Lihatlah bagaimana Lin Dan, Victor Axelsen, dan Cheng Long “tewas” di tangannya. Jika bukan karena kecerdasannya, tidak mungkin anak muda dari Cimahi itu berhasil “membunuh” mereka.

Anthony Ginting adalah Pembunuh Para Raksasa
Kemenangan Ginting menandai bangkitnya tunggal putra Indonesia (Foto: Dok. Humas PBSI)

Final yang digelar di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Minggu (23/9) lalu itu disebut-sebut sebagai salah satu final terbaik. Sebuah partai yang, menurut publik bulutangkis Tiongkok, memperlihatkan bagaimana tunggal putra telah “kembali ke jalan yang benar” setelah sekian lama “salah jalan”.

Sekali lagi Ginting mempertontonkan seninya bermain bulu tangkis. Kombinasi antara smash, drop shot, back hand, dan permainan netting-nya benar-benar memukau. Semuanya hampir begitu sempurna. Sebuah kombinasi yang membuat Momota tak mampu mengembangkan permainannya. Raksasa terakhir itu “dibunuh”-nya dalam dua game langsung: 23-21 dan 21-19.