Thursday, June 21, 2018
Gaya Hidup

Melacak Sejarah Es Batu di Indonesia

sejarah es batu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
26views

Saat ini, mencampur minuman, apa pun itu, dengan es batu sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan seperti sebuah “kewajiban”. Dan itu dilakukan oleh hampir semua orang.

Pertanyaannya adalah sejak kapan es batu menjadi familiar di Indonesia? Sejak kapan masyarakat Indonesia menggunakan es batu? Sejak kapan minuman yang dicampur dengan es batu itu mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia?

Semuanya terjadi pada awal abad ke-19 lalu. Pada tahun 1800-an itu, seperti diberitakan kompas.com, minuman dingin masih merupakan sajian mewah di tanah Batavia. Minuman seperti itu hanya dinikmati segolongan kecil keluarga Belanda yang tinggal di kawasan Meester (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur) atau Weltevreden (sekarang Sawah Besar, Jakarta Pusat). Saat itu, es batu digunakan sebagai pelengkap minum bir.

sejarah es batu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Harian Kompas yang terbit pada 19 Juni 1972 mencatat kehebohan yang terjadi di tengah masyarakat ketika untuk pertama kalinya es batu masuk ke Indonesia. Pada 18 November 1846, surat kabar Javasche Courant memberitakan bahwa sehari sebelumnya, 17 November 1846, sebuah kapal besar dari Boston, Amerika Serikat, telah menambatkan jangkarnya. Kapal itu memuat es batu yang dipesan oleh Roselie en Co.  Es itu akan dibongkar keesokan harinya.

Kabar tentang es ini menyebar dengan cepat hingga ke Benteng Batavia. Kabar ini membuat sibuk pihak bea cukai. Mengapa? Karena mereka belum menyiapkan aturan mengenai impor es batu.

Dalam sekejap, es batu menjadi buah bibir di negeri ini. Hampir semua orang memperbincangkan benda yang disebut sebagai “batu-batu putih sejernih kristal, yang kalau dipegang bisa membuat tangan kaku”. Beberapa hari kemudian, muncul iklan Roselie en Co yang menjual es tersebut dengan harga 10 sen setiap 500 g.

Dibungkus dengan selimut wol

sejarah es batu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Javasche Courant dengan sangat baik merekam kehebohan yang terjadi karena es batu itu. Dalam salah satu edisinya, ia memuat sebuah artikel mengenai cara penyimpanan es batu: es batu dibungkus dengan selimut wol. Es dianggap barang impor berharga dari Amerika, sehingga penyimpanannya harus diperhatikan agar tak cepat mencair.

Fenomena es batu ini lalu dianggap sebagai peluang bagi para pelaku bisnis. Banyak restoran mulai menyediakan menu air es. Djakarta Firms Voute en Gherin, sebuah perusahaan, menjual selimut wol untuk menyimpan es batu itu. Pada lain kesempatan, seorang pengusaha bernama David Gilet menyatakan sanggup menyediakan air es untuk berbagai pesta dengan biaya 15 gulden. Dan, untuk pertama kalinya, air es disajikan pada malam Natal pada tahun 1846 di Hotel Des Indes (berubah nama menjadi Hotel Duta Indonesia dan akhirnya dihancurkan kini menjadi Duta Merlin, Jakarta Pusat).

Obat sariawan

sejarah es batu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Saat itu, es batu tidak hanya dicampurkan dengan minuman agar terasa lebih dingin dan segar, tetapi juga digunakan sebagai bagian dari penyembuhan penyakit. Pemerintah Hindia Belanda memberikan bonus sebesar 6.000 gulden untuk mereka yang sanggup mengirimkan es batu ke rumah sakit di Batavia.  Es ini akan digunakan untuk mengobati tentara Belanda yang terkena sariawan. Sementara, untuk di Semarang dan Surabaya, Pemerintah Hindia Belanda menyediakan bonus sebear 7.300 gulden.

Impor es dari Amerika berlangsung hingga 1870. Pasalnya, saat itu sudah berdiri pabrik es di Batavia.  Pabrik ini berdiri setelah prosedur pembuatan amoniak ditemukan di Eropa. Teknologi ini diimpor pada 1880.  Kehadiran teknologi ini turut mengubah cara penyimpanan bahan makanan cadangan yang ketika itu belum menggunakan pendingin sejenis ini.

Pabrik es batu bermunculan

sejarah es batu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Satu dekade kemudian, pabrik es batu berdiri di berbagai daerah. Di Batavia, misalnya, pabrik es berdiri di Molenvliet (Jalan Gadjah Mada dan Jalan Hayam Wuruk) dan kawasan Petojo. Kebiasaan minum minuman dingin pun semakin menyebar luas. Pada 1895, seorang pengusaha Tionghoa yang lahir di Semarang, Kwa Wan Hong, mendirikan pabrik es batu di Semarang. Selanjutnya pabrik juga berdiri di Tegal, Pekalongan, Surabaya, dan Batavia.