Berita

Ma’ruf Amin: Ada yang Ngomong Hargai Ulama, tapi Ijtimak Tak Didengar

KH Ma'ruf Amin cawapres Jokowi
Presiden Jokowi dan KH Ma'ruf Amin di Gedung Joang 45 (Foto: detikcom)
47views

KH Ma’ruf Amin sebenarnya masuk dalam daftar cawapres alternatif Presiden Joko Widodo. Selain dirinya, masih ada beberapa nama lagi. Dan nama yang paling kuat disebut untuk maju bersama sang petahana adalah Mahfud MD.

Pada akhirnya, Ketua MUI itulah dipilih Presiden Joko Widodo sebagai cawapresnya dalam pilpres 2019 mendatang. Ia ditelepon oleh Pratikno, Sekretaris Negara, pada Kamis (9/8) sore, untuk menjadi cawapres.

“Berarti saya harus mengabdi kepada negara,” katanya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) sore, seperti dilansir kompas.com.

KH Ma'ruf Amin cawapres Jokowi
Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf Amin (Foto: Antara)

Ia melihat langkah Jokowi memilihnya sebagai cawapres adalah wujud penghargaan Jokowi kepada ulama.

“Saya anggap Pak Jokowi betul-betul menghargai ulama. Penunjukan saya, saya anggap itu penghargaan kepada ulama,” katanya.

Hal ini berbeda dengan kelompok tertentu yang selalu mengklaim diri sebagai pihak yang sangat menghargai ulama. Pada kenyataannya, kelompok itu tidak mendengarkan hasil Ijtimak Ulama.

“Ada belah sono ngomong, ya, menghargai ulama, menghargai ulama, tapi hasil ijtimak ulamanya enggak didengerin. Malah wakilnya bukan ulama,” ungkapnya di kantor PPP di Jl. Diponegoro, Jakarta, Jumat (10/8), seperti dilansir detikcom.

KH Ma'ruf Amin cawapres Jokowi
KH. Ma’ruf Amin (Foto: Antara)

Dipilihnya ia menjadi pendamping Jokowi dalam pilpres mendatang menunjukkan bahwa siapa pun bisa terjun ke dalam kancah politik, termasuk para kiai dan ulama.

“Memang yang boleh menjadi presiden dan wakil presiden itu politisi saja? Atau tentara saja? Pengusaha saja? Kiai juga boleh,” katanya.