fbpx
Kecantikan & Kesehatan

Waspada Rabies! Jika Sudah Kena, Begini Cara mengatasinya

Ilustrasi (Foto: medicalnewstoday.com)
106views

Hati-hati dengan hewan liar. Khususnya hewan berdarah panas seperti anjing, kucing maupun kera. Pasalnya, kita tidak pernah tahu apakah hewan-hewan liar ini terserang virus atau tidak. Apalagi, jika hewan-hewan ini membawa virus mematikan seperti virus rabies.

Satu gigitan hewan yang terkena virus rabies bisa langsung merenggut nyawa kita. Dari gigitan itu, virus rabies bisa menular kepada manusia dan berujung kematian. Virus rabies menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas (anjing, kucing, kera).

Virus Rabies (Foto: fineartamerica.com)

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit hewan menular akut yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Rabies menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas yang disebabkan oleh virus rabies. Virus rabies ditularkan melalui air liur hewan penderita rabies melalui gigitan atau luka terbuka. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian bagi manusia dan hewan.

Virus rabies bisa menular melalui gigitan dan non gigitan (goresan, cakaran atau jilatan) pada kulit yang terbuka (luka) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies. “Setelah masuk ke dalam tubuh, virus rabies bereplikasi dan menjalar dari susunan syaraf perifer ke susunan syaraf pusat,” kata Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes di Jakarta, belum lama ini.

Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes (Foto: Istimewa)

Gejala klinis, sambung Nadia, akan muncul setelah virus rabies mencapai susunan saraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus dan batang otak. Virus rabies menyebar melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah. “Hingga saat ini, belum ada teknologi yang bisa mendiagnosa dini sebelum muncul gejala klinis rabies,” terang Nadia.

Nadia juga menjelaskan jika gejala rabies pada hewan sangat bervariasi, antara lain adanya perubahan tingkah laku seperti mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk terhadap pemilik, pica (memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanannya), hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, inkoordinasi, kejang-kejang, paralisis atau lumpuh dan akan mati dalam waktu 14 hari namun umumnya mati pada 2-5 hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Sementara, lanjut Nadia, gejala rabies pada manusia menunjukkan adanya radang otak akut (encephalitis) seperti hiperaktifitas, kejang, atau kelumpuhan (paresis/paralisis), terjadi koma dan biasanya meninggal karena gagal pernafasan pada hari ke 7-10 sejak timbul gejala pertama (onset) dan mempunyai riwayat gigitan oleh hewan penular rabies (HPR).

“Apabila penderita rabies telah menunjukan tanda klinis, biasanya berujung pada kematian baik pada hewan maupun manusia. Hewan rabies akan mudah agresif menyerang manusia tanpa sebab. Kondisi ini mengakibatkan timbulnya rasa takut dan kekhawatiran bagi masyarakat,” papar Nadia.

Baca :   Mau Punya Tubuh langsing? Ikuti Diet Sehat ala Selebritas Ini!
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Pencegahan rabies, katanya, dapat dilakukan dengan melakukan tatalaksana luka gigitan hewan penular rabies (GHPR). Pertama, melakukan pencucian luka gigitan dengan menggunakan air dan sabun selama kurang lebih 15 menit. Pencucian ini harus segera dilakukan setelah terjadi pajanan (jilatan, cakaran atau gigitan) oleh hewan penular rabies (HPR) untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.

Kedua, memberikan Antiseptik setelah dilakukan pencucian luka untuk membunuh virus rabies yang masih tersisa di sekitar luka gigitan. Antiseptik yang dapat diberikan diantaranya povidon iodine, alkohol 70%, dan zat antiseptik lainnya. Ketiga, pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan antibodi yang terbentuk bisa menetralisasi virus rabies sesuai dengan kriteria.

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

VAR diberikan pada hari ke 0 sebanyak 2 dosis (pada lengan kanan dan kiri), hari ke 7 sebanyak 1 dosis (pada lengan kanan atau kiri) dan hari ke 21 sebanyak 1 dosis (pada lengan kanan atau kiri). Sedangkan SAR diberikan bersamaan dengan pemberian VAR pada hari ke 0 secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, lalu sisanya disuntikkan.

Pemberian VAR dan SAR perlu dipertimbangkan kondisi hewan pada saat pajanan terjadi, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium spesimen otak hewan, serta kondisi luka yang ditimbulkan.

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Untuk kategori luka risiko tinggi, yaitu jilatan atau luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (leher, muka dan kepala), luka pada jari tangan dan jari kaki, luka di area genitalia, luka yang lebar atau dalam, atau luka multiple (multiple wound) perlu diberikan VAR dan SAR. Sedangkan luka risiko rendah, yaitu jilatan pada kulit terbuka atau cakaran atau gigitan kecil yang menimbulkan luka lecet di area badan, tangan dan kaki yang tidak banyak persyarafan cukup diberikan VAR.

Di sisi lain, lakukan observasi hewan (kandangkan atau ikat hewan) yang menggigit selama 14 hari. Sebaiknya hentikan pemberian VAR bila hasil observasi hewan menunjukkan hewan sehat, atau hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen otak hewan menunjukkan hasil negatif.