fbpx
Kecantikan & Kesehatan

Saling Memaafkan Itu Menyehatkan, Lho

ilustrasi paling memaafkan (Foto: infoyunik.com)
125views

Hari ini, Selasa (4/6), sebagian muslim sudah merayakan Idulfitri. Mereka merayakan hari kemenangan itu dengan menjalankan salat Id bersama. Setelah itu, mereka berkumpul bersama dan saling memaafkan.

Momen berkumpul bersama dan saling memohon maaf adalah momen yang membahagiakan. Momen yang ditunggu-tunggu. Ada kelegaan hati yang besar ketika memberi dan menerima maaf.  

Ilmu kesehatan menunjukkan bahwa momen saling memaafkan ternyata punya manfaat yang besar terhadap kesehatan. Hal ini diungkapkan oleh dr. Iman Firmansyah, SpKJ dalam sebuah program di sebuah stasiun televisi swasta sehari sebelumnya, Senin (3/6).

Ilustrasi (Foto: bundakonicare.com)

“Memang memaafkan sulit, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dengan memaafkan bisa menenangkan diri karena ada oksitosin dan kortisol. Hormon ini berkaitan, tapi punya efek berbeda. Makin banyak hormon stres kortisol, akan membuat masalah di badan dan sulit memaafkan bisa meningkatkan stres,” jelasnya.

Orang yang meminta maaf akan bahagia karena kesalahannya dimaafkan. Orang yang memberi maaf juga bahagia karena terbuka hatinya untuk memberikan maaf.

“Memang sulit memberi dan menerima maaf. Jika sulit, akan ada dendam. Biasanya ada pikiran orang lain punya masalah seperti dirinya. Timbul stress, kecemasan, dan ketakutan. Akan jadi masalah pada kemudian hari,” ungkapnya.

Baca :   Capai 87 Persen, Imunisasi Campak-Rubella di Indonesia Diapresiasi WHO

Tindakan memaafkan diketahui punya manfaat lain yang besar: memperpanjang usia. Mengapa? Karena hormon stres (kortisol) berkurang. Dalam momen memaafkan, hormon oksitoksin (bahagia) akan keluar.

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

“Dua hormon ini penting. Perlu keseimbangan. Kalau kortisol banyak dibanding oksitosin, sel kromosom DNA mati,” katanya.

Selain itu, tindakan memaafkan juga bisa menurunkan berat badan secara tidak langsung. Pasalnya, orang yang sulit memaafkan akan menimbun dendam dalam diri. Hal ini bisa memicu timbulnya gaya hidup yang tidak sehat: orang bisa makan apa saja atau minum alkohol untuk menghilangkan stres, sehingga menimbulkan kenaikan berat badan.