fbpx
Kecantikan & Kesehatan

Jangan Sepelekan Genangan Air saat Musim Hujan!

Foto: Istimewa
58views
Waktu baca : 3 menit

Di musim hujan saat ini, lingkungan tempat tinggal kita akan digenangi banyak air. Jika dibiarkan, genangan itu akan menimbulkan masalah besar, karena bisa menjadi sarang nyamuk aedes aegypti.  Si pembawa virus dengue ini akan berkembang biak dengan sangat cepat di genangan air sisa hujan.

Terbukti, ada 22 provinsi yang mengalami peningkatan kasus suspek dengue. Dari 22 provinsi itu, beberapa wilayah sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB), yakni Kabupaten Kapuas, Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dan Kabupaten Manggarai Barat.

Nyamuk aedes aegypti (Foto: Sci-News.com)

Dari kasus itu, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap DBD. Pasalnya, kata Nila, tidak hanya di musim hujan, DBD juga bisa menyerang saat musim kemarau. Terutama di tempat-tempat genangan air atau barang bekas.

“DBD pun rentan menyerang manusia di musim kemarau kalau ada tempat genangan air seperti di barang bekas di gudang rumah atau bak mandi yang jarang dikuras,” kata Nila dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, Senin (14/1/2019).

Menteri Kesehatan Nila Moeloek (Foto: depkes.go.id)

Untuk mengendalikan kejadian DBD, Kemenkes terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terutama dalam pemantauan dan penggiatan surveilans DBD. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan, KLB ini sudah ditanggulangi oleh tim gerak cepat Kemenkes
bersama dinas kesehatan propinsi setempat.

Kemenkes, kata Nadia, sudah melakukan penyelidikan sumber penularan DBD dan sudah dilakukan langkah stop penularan DBD agar KLB tidak meluas. “Upayanya kita pencegahan. Dari dulu sudah ada gerakan 3M+, yakni menutup semua tampungan air atau sumber air, menguras bak mandi, dan mendaur ulang barang bekas,” terang Nadia.

Jentik nyamuk (Foto: Istimewa)

Plusnya, sambung Nadia, bisa menggunakan ikan pemakan jentik. Jadi, apabila di dalam rumah ada tanaman berisikan air, sebaiknya ada ikan pemakan jentik nyamuk. Pencegahan lainnya juga dapat dilakukan dengan menaburkan larvasida untuk tempat yang tidak mungkin dilakukan pengurasan air atau mengeringkan air. Larvasida berfungsi untuk membunuh larva nyamuk

“Penting kita memutuskan rantai penularan mulai nyamuk pradewasa sampai nyamuk dewasa. Langkahnya dengan 3M+ tadi, dan jangan sampai ada genangan air di lingkungan tempat tinggal kita,” tegas Nadia.

Virus Dengue (Foto: virology.wisc.edu)

Virus dengue biasanya menginfeksi nyamuk aedes betina saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia), yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari (periode inkubasi ekstrinsik) sesudah menghisap darah penderita yang sedang viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 34 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit.

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Gejala awal DBD antara lain, demam tinggi mendadak sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung, kadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan. Pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian. Masa inkubasi penyakit ini
3-14 hari, tetapi pada umumnya 4-7 hari.

DBD menyerang pembuluh darah yang menyebabkan indikator trombosit turun drastis. Kasus meninggalnya seseorang karena mengalami shock pembuluh darah. Karena itu, pencegahan harus dilakukan dari tatanan keluarga. Setiap keluarga harus memastikan langkah pencegahan 3M+ dilakukan. Bila merasa demam, segera periksakan ke Puskesmas atau rumah sakit.

Facebook Comments