fbpx
Kecantikan & Kesehatan

2030 Indonesia Bebas HIV-AIDS

Ilustrasi (Foto: thestar.com.my)
111views

Permasalahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)  menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Seperti dikutip dari depkes.go.id, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa). Paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699) dan Jawa Tengah (24.757).

HIV itu ada obatnya, namanya antiretroviral (ARV). ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjaga. Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan.

Foto: medindia.net

Virus HIV sebenarnya tidak mudah menular, karena hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, serta dari ibu hamil. Virus HIV tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, gigitan nyamuk atau serangga, menggunakan alat makan bersama, bersalaman atau berpelukan, maupun tinggal serumah dengan ODHA.

Seseorang yang terinfeksi virus HIV berpotensi menularkan meski tidak memiliki ciri yang dapat dilihat secara kasat mata (fisik). Status HIV seseorang hanya dapat diketahui dengan melakukan cek atau pemeriksaan darah di laboratorium. Karena itu, Jika merasa pernah melakukan perilaku berisiko atau merasa berisiko tertular segera lakukan tes HIV.

Baca :   Untuk Pemula, Begini Tips Mudah Tampil dengan Riasan Baby Face
Ilustrasi (Foto: hellosehat.com)

Upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, yaitu tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Kementerian Kesehatan menggaungkan strategi akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) untuk mencapai target tahun 2030 tersebut. Tahun ini, diluncurkan pula strategi Test and Treat, yaitu ODHA dapat segera memulai terapi ARV begitu terdiagnosis mengidap HIV.

Ilustrasi (Foto: independent.co.uk)

Selain itu, untuk pencegahan infeksi dan penularan HIV, masyarakat perlu mengingat hal-hal berikut, bagi yang belum pernah melakukan perilaku berisiko, pertahankan perilaku aman. Bila sudah pernah melakukan perilaku berisiko, lakukan tes HIV segera.

Bila tes HIV positif, selalu gunakan kondom saat berhubungam seksual, serta patuhi petunjuk dokter dan minum obat ARV. Jika bertemu dan berinteraksi dengan ODHA, bersikap wajar dan jangan mendiskriminasi atau memberikan cap negatif. Berikan dukungan. Jangan takut tertular.