fbpx
Jalan-Jalan

Mengintip Keajaiban Bukit Menoreh, Ada Pasar Digital dan Glamping Kekinian ala Milenial

Foto: Istimewa
335views

Kawasan wisata Bukit Menoreh menyimpan begitu banyak keajaiban. Selain pesona keindahan alamnya, kini, pemerintah setempat tengah mengembangkan sesuatu yang diharapkan menjadi keajaiban baru, yaitu sebuah destinasi digital bernama Pasar Digital Menoreh dan Glamping De’Loano.

Pasar Digital Menoreh merupakan perwujudan dari atraksi yang turut memopulerkan keberadaan Glamping De’Loano. Jaraknya hanya 20 menit dari Pasar Digital Menoreh.Terletak di titik shelter utara, pengembangan Pasar Digital ini masih dalam proses pembangunan.

Foto: Istimewa

Melihat adanya potensi yang tinggi dari dua objek wisata ini, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengajak wisatawan untuk menemukan keajaiban di Bukit indah ini. Ajakan itu ia serukan saat meresmikan Destinasi Digital Pasar Menoreh dan Glamping De’Loano di kawasan Bukit Menoreh, Desa Sedayu, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (14/2/2019) lalu.

Arief menilai, keajaiban di Bukit Menoreh bisa semakin dirasakan jika fasilitas pendukung terus ditingkatkan, termasuk dari sisi layanan dan kesiapan masyarakat setempat. Sampai saat ini, katanya, masih perlu adanya penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) setempat.

Foto: Istimewa

Oleh karena itu, seiring dengan komitmen awal sebelum Badan Otorita Borobudur (BOB) dibentuk, ia meminta ke pihak BOB agar terlebih dahulu membangun masyarakat di sekitar kawasan termasuk wilayah Menoreh. “Jika capacity building yang dibutuhkan lebih awal, saya pastikan akan dibangun terlebih dahulu seperti homestay. Kemudian saya harapkan kelak homestay ini dapat menyejahterakan masyarakat sekitar,” sambung Arief.

Dari sekian banyak pasar digital yang telah dikunjungi, Arief menilai, partisipasi masyarakat dalam pengembangan Pasar Digital Menoreh memiliki tingkat paling tinggi.  ”Jika masyarakatnya sudah semangat, kemudian kepala daerahnya juga semangat, maka dapat dipastikan Pasar Digital Menoreh ini akan maju. Dan pariwisata mampu memberikan kesejahteraan ke masyarakat yang paling bawah,” katanya.

Foto: Istimewa

Selain Pasar Digital, Arief juga mengundang wisatawan untuk menikmati sensasi nomadic tourism di Glamping De’Loano. Glamping De Loano yang dilengkapi dengan amenitas nomadic berupa glamp camp, home pod, dan caravan menjadi salah satu wujud program strategis Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang tengah mengembangkan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Baca :   Inilah Hotel Bawah Laut Pertama di Dunia

”Ini sebagai tahap awal dan akan menjadi proyek percontohan nomadic tourism yang sedang terus dikembangkan di empat destinasi prioritas, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur. Glamping De’Loano ini bagian dari pendukung Borobudur,” kata Arief.

Foto: Istimewa

Arief mengapresiasi pengembangan Glamping De’Loano sebagai sinergi kerja sama antara Badan Otorita Borobudur (BOB) dengan Perum Perhutani. Pada tahap awal, BOB menggunakan lahan seluas 1,3 hektare dari total keseluruhan lahan zona otorita sekitar 308 hektare untuk percontohan serta dalam rangka mengundang investor.

“Bisnis nomadic tourism banyak diminati investor karena karakter bisnis ini murah, cepat operasional, dan cepat kembali modal sesuai dengan karakter pasar potensial yang disasar, yaitu para wisatawan milenial,” terang Arief.

Foto: Istimewa

Dalam mengembangkan model bisnis ini juga ada konsep ekonomi berbagi atau sharing economy yang memberi keuntungan bagi semua pihak yang terlibat meliputi pemilik lahan, pengelola, dan masyarakat setempat.

Sisi lain keunggulan bisnis nomadic tourism yakni hanya membutuhkan biaya yang tidak mahal dengan keuntungan yang diperoleh relatif singkat. “Saya berani membuat tagline nomadic tourism yakni solusi sementara, sebagai solusi selamanya. Hal ini sudah terbukti dan sesuai dengan keadaan saat ini,” kata Arief.