Wednesday, June 20, 2018
Makanan

Inilah Sejarah Kue Kering untuk Lebaran

Sejarah kue kering
Ilustrasi: situasi di sebuah pasar di Jatinegara (Foto: poskotanews)
19views

Sabtu (9/6) sore di sebuah pusat perbelanjaan untuk kelas menengah ke bawah di kawasan Jakarta Selatan. Empat orang pramuniaga mendorong troli mendekati empat rak panjang. Troli itu berisi kue-kue kering. Baru beberapa menit di susun di atas rak-rak itu, kue-kue kering itu sudah habis diserbu pengunjung. Maklum, satu orang ibu bisa membeli lebih dari dua toples kue kering.

Tidaklah mengejutkan bahwa menjelang hari raya besar keagamaan seperti Lebaran yang sudah berada di depan mata ini, kue-kue kering semacam nastar, putri salju, kastangel, dan lain-lain berada pada urutan pertama daftar belanja. Pasalnya, kue-kue itulah yang akan disajikan pada hari raya. Hampir semua keluarga menyediakannya,

Yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan kue-kue kering itu disajikan pada setiap Lebaran? Sejarah mencatat bahwa kue-kue kering muncul sejak abad ke-7 lalu di tanah Persia (sekarang Iran).

Sejarah kue kering
Kue kering (Foto: Istimewa)

Kue kering ini, seperti dilansir kompas.com, sebenarnya tidak pernah ingin untuk diciptakan. Pada waktu itu, para tukang roti hanya ingin membuat kue seperti yang selalu mereka buat. Masalahnya adalah, pada masa itu, memanggang kue tidaklah mudah. Belum ada alat yang bisa menentukan suhu oven.

Lalu bagaimana mereka mengukur suhu? Biasanya mereka menjatuhkan sedikit adonan ke dalam oven. Karena suhu yang panas, adonan itu kering. Lahirlah kue kering. Ketika itu, kue kering hanyalah versi tipis dari kue pada umumnya dan disajikan dalam porsi kecil dengan warna cokelat keemasan. Dan biasanya disajikan untuk kaum bangsawan.

Kue kering ini kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui pedagang muslim. Salah satu wilayah yang ikut mempopulerkan kue kering adalah daratan Eropa. Di Eropa, kue kering muncul pertama kali di Spanyol, tepatnya ketika Islam berkuasa.

Sejarah kue kering
Kue putri salju (Foto: YouTube)

Sekitar abad ke-14, kue ini mulai dinikmati oleh seluruh masyarakat Eropa, mulai dari anggota kerajaan hingga rakyat biasa. Pada 1596, makanan ringan ini menjadi makanan yang warga kelas menengah di Inggris. Kue kering yang populer saat itu berbentuk persegi kecil yang diperkaya dengan kuning telur dan rempah-rempah.

Pada 1671, imigran Inggris, Skotlandia, dan Belanda membawa kue kering ke Amerika Serikat. Kue kering ini dijadikan “teman” untuk minum teh. Pada masa ini, pembuatan kue kering dilakukan industri rumahan.

Tidak lama setelah itu, ratusan resep kue dibuat di Amerika Serikat. Baru sekitar abad ke-17 dan 18. di Eropa, pembuatan kue mulai dikontrol dengan hati-hati oleh asosiasi profesional.

Sejarah kue kering
Kue nastar (Foto: Istimewa)

Setelah revolusi industri, pada abad ke-19, teknologi pembuatan kue makin maju. Saat itu, bermacam-macam kue kering diciptakan mulai dari rasa manis hingga gurih. Sejak saat itu, kue menjadi salah satu kudapan wajib untuk berbagai perayaan di Eropa maupun Amerika seperti Natal dan sebagainya.

Di Indonesia, salah satu kue kering yang terkenal adalah nastar. Kue ini masuk ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Disajikan sebagai pengganti pie blueberry atau apel yang merupakan kegemaran warga Belanda. Kata nastar adalah akronim dari dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu “Ananas/nanas” dan “Taart/tart/pie” yang berarti tart nanas. Nanas digunakan karena buah blueberry sulit ditemukan di Indonesia.