Berita

Indonesia, Inilah Samantha Edithso, Sang Juara Dunia Catur U-10

Samantha Edithso, juara dunia catur
Samantha Edithso (Foto: detikcom)
73views

Sejak awal tahun ini, nama Indonesia harum dalam kancah internasional. Beberapa putra terbaik bangsa ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya potensi besar untuk menjadi yang terbaik di dunia. Pada Januari lalu, Fauzan Noor, pemuda 20 tahun dari Banjarmasin, membanggakan Indonesia dengan menjadi juara dunia dalam WASO World Championship 2018 yang digelar di Praha, Ceko.

Lima bulan kemudian, lahir dua juara dunia lagi dari Indonesia. Yang pertama adalah Lalu Muhammad Zohri. Yang kedua adalah Jevon Kusmoyo. Lalu menjadi juara dunia lomba lari 100 m yang digelar di Finlandia. Sementara Jevon menjadi juara dunia wushu dalam ajang World Junior Wushu Championship yang digelar di Brasil.

Sebelum Lalu dan Jevon, Indonesia sebenarnya melahirkan juara dunia junior lagi. Dialah Samantha Edithso. Pecatur cilik itu menjadi juara dunia dalam ajang FIDE World Championship 2018 U-10 yang digelar di Minsk, Belarusia, pada akhir Juni lalu.

Samantha Edithso, juara dunia catur
(Foto: Istimewa)

Senin (23/7) lalu, pada Hari Anak Nasional, Samantha menerima apresiasi dari pemerintah atas prestasi yang sudah ia ukir. Ia mendapatkan bonus sebesar Rp40 juta. Selain Samantha, Fauzan dan Jevon pun mendapatkan apresiasi. Seremoni pemberian apresiasi ini dilakukan di ruangan Menpora lantai 10, Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta Selatan.

“Saya senang sekali. Saya sebenarnya tidak mengira diundang ke sini. Tidak menyangka,” katanya seperti dilansir detikcom.

Samantha menjadi pemenang setelah mendapat remis satu kali saat melawan pecatur Uzbekistan, Afruza Khamdamova, pada pertandingan ketiga FIDE World Cadets Rapid & Blitz Chess Championships. Sebetulnya Afruza adalah lawan terberatnya. Bocah ini bergelar WCM dan merupakan juara FIDE World School Chess Championship 2017.

“Sebenarnya kebetulan juga. Pas babak ketiga, saya kalah, tapi lawan saya tidak tahu. Tiba-tiba malah jadi remis, setengah-setengah poinnya. Posisi saya kan (padahal) sudah kalah banget, tapi kebetulan saja bisa draw gitu,” ceritanya.

Samantha Edithso, juara dunia catur
(Foto: Istimewa)

Pada partai kesembilan atau partai terakhir, ia mengalahkan Yana Zhapova, pecatur cilik dari Rusia. Ia mengumpulkan nilai akhir 8,5 poin.

“Saya bersyukur bisa bawa medali buat Indonesia,” katanya.

Pilihan Terakhir
Sejatinya, menjadi pecatur bukanlah cita-cita Samantha. Itu adalah pilihan terakhir setelah bernyanyi dan menggambar. Kedua bidang itu dipilihnya karena memang disukainya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SD Santa Ursula.

Mengapa akhirnya ia memilih catur? Karena masing-masing siswa diharuskan untuk memilih 3 kegiatan ekstrakurikuler. Yang sudah ia pilih adalah mengikuti paduan suara dan menggambar. Ia harus memilih 1 lagi: futsal atau catur.

“Ya, karena kurang satu lagi, jadi saya pilih pilih catur,” ujarnya.

Samantha Edithso, juara dunia catur
(Foto: Istimewa)

Siapa yang menyangka bahwa justru pilihan ketiga itulah yang membuatnya menjadi terkenal. Bahkan hingga ke seluruh dunia.

“Pertamanya, cuma iseng-iseng saja ikut ekstrakurikuler di sekolah. Terus lama-kelamaan kan latihan privat selama dua bulan. Ketika itu saya mengikuti kejuaraan nasional dan saya juara satu,” ceritanya.

Incar Grand Master
Bocah kelahiran Jakarta, 17 Februari 2008, ini tahu bahwa catur bukanlah sebuah permainan yang mudah. Permainan itu membutuhkan analisa yang tajam dan strategi yang tepat.

“Ya, kadang-kadang iya (pusing), tapi tergantung juga. Kalau seperti catur klasik, itu kan untuk pertandingan saja butuh 4 jam. Jadi, memang sulit,” katanya.

Samantha Edithso, juara dunia catur
(Foto: Istimewa)

Ia tidak mau menyerah. Ia justru semakin tertantang untuk menguasai permainan itu. Untuk itulah, ia meluangkan banyak waktu dengan bermain catur di komputer dan membaca berbagai buku tentang catur. Targetnya saat ini adalah meraih gelar grand master.

“Saya, sih, ingin coba dapat gelar grand master dulu secepat mungkin. Sekarang, tuh, rekor dunia itu umur 13-15 tahun. Saya mau pecahin rekor peraih grand master termuda dulu,” ungkapnya.