fbpx
Ilmu Pengetahuan

Perempuan Ini Tak Merasakan Sakit Gara-Gara Mutasi Genetik

Perempuan tidak merasa sakit karena mutasi genetik
Jo Cameron (Foto: Mark Pinder/The Guardian)
97views

Siapa yang tidak mau tidak merasakan sakit, dalam bentuk apa pun itu, seumur hidupnya? Siapa yang tidak mau tidak merasakan nyeri sepanjang hidupnya? Dan siapa yang tidak mau makan cabai tanpa kepedasan?

Pasti tidak ada yang tidak mau. Masalahnya adalah tidak semua orang bisa seperti itu. Di dunia ini, hanya ada segelintir orang yang bisa tidak merasakan sakit apa pun. Bahkan mungkin hanya satu atau dua orang.

Salah satu orang yang tidak pernah makan obat nyeri seumur hidupnya adalah Jo Cameron dari Skotlandia. Perempuan yang kini berusia 71 tahun itu diketahui tidak merasakan sakit atau nyeri ketika tidak dengan sengaja membakar tangannya. Ia juga tidak merasa kepedasan ketika makan cabai dan tidak kesakitan ketika mengalami masalah gigi.

Perempuan tidak merasa sakit karena mutasi genetik
Ilustrasi mutasi genetik (Foto: Thinkstock)

Jo tidak merasa bahwa hal-hal itu aneh sampai ketika ia berusia 65 tahun. Ketika itu, ia memeriksakan masalah pinggulnya. Menurut dokter, masalah persendiannya sudah sangat parah. Dan seharusnya ia merasakan nyeri yang hebat.

“Saya tidak tahu sama sekali sampai beberapa tahun yang lalu bahwa hanya bisa merasa sedikit sakit ternyata bukan hal biasa. Saya kira ini normal,” katanya seperti dilansir The Guardian.

Para ilmuwan melakukan penelitian untuk mencari tahu “keanehan” yang dialami Jo itu. Mereka ingin tahu mengapa Jo berbeda dengan orang lain dalam hal itu. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Anaesthesia menunjukkan bahwa Jo memiliki mutasi genetik. Pada Jo ada gen yang disebut FAAH dan FAAH-OUT.

Baca :   Seratus Tahun Lagi, Wajah Bumi Ini Akan Benar-Benar Asing
Perempuan tidak merasa sakit karena mutasi genetik
Jo bersama suami dan ibunya (Foto: dok. pribadi via bbc.com)

Hasil penelitian ini bisa menjadi sebuah terobosan dalam pengembangan obat pereda nyeri baru pascaoperasi atau ganguan kecemasan.

“Implikasi penemuan ini sangat besar. Satu dari dua pasien bedah masih bisa mengalami nyeri sedang hingga berat pascaoperasi meskipun dengan kemajuan obat nyeri yang ada saat ini,” kata Dr. Devjit Srivastava, salah satu peneliti.

Rupanya tidak hanya Jo yang mengalami “keanehan” itu, tetapi juga ayah dan anak laki-lakinya. Mereka juga memiliki kondisi toleransi rasa sakit. Namun, anak perempuan dan cucu perempuannya tidak menunjukkan “keanehan” itu.