fbpx
Ilmu Pengetahuan

LIPI Kembangkan Makanan Murah Ini untuk Cegah Stunting Pada Anak

Ilustrasi (Foto: indianexpress.com)
44views

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk yang memicu masalah stunting (kekerdilan) di Indonesia berada di angka 30,8 persen. Stunting sendiri adalah kondisi gizi kronis yang masih menjadi persoalan serius yang harus dituntaskan oleh pemerintah.

Untuk mencegah stunting, perlu intervensi gizi spesifik, salah satunya melalui pemanfaatan sumber pangan lokal. LIPI telah melakukan penelitian untuk menekan angka stunting di Indonesia, seperti yang dilakukan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI lewat pengembangan singkong unggul kaya nutrisi.

Foto: Istimewa

“Singkong sebagai komoditas pangan mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Singkong sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernutrisi karena memiliki kandungan betakaroten yang tinggi,” terang Ahmad Fathoni, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dilansir dari lipi.go.id.

Sayangnya, kata Fathoni, singkong belum menjadi sumber pangan utama. “Selama ini konsumsi pangan masih berasal dari komoditas padi, jagung dan kedelai,” jelasnya.

Foto: pertanianku.com

Menurut Fathoni, salah satu faktor yang menyebabkan singkong kurang populer karena minimya inovasi olahan. “Karena itu, LIPI mengembangkan singkong sebagai bahan pangan olahan berupa tepung termodifikasi atau mocaf kaya betakaroten, untuk bahan baku pembuatan mie sayur,” ungkap Fathoni.

Baca :   Fakta-Fakta tentang Tubuh Manusia yang Harus Kamu Ketahui

Tidak hanya singkong, LIPI juga mengembangkan riset kedondong hutan (Spondias pinnata) untuk pencegahan diabetes,. “Dari hasil uji, daun kedondong hutan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat serta mengandung sejumlah besar senyawa fenolik untuk menangkal radikal bebas,” kata Wawan Sudajrwo dari Balai Konservasi tumbuhan Kebun Raya Bali.

Foto: Istimewa

Masyarakat Bali, sambung Wawan, telah menggunakan antioksidan dan polifenol dari daun kedondong hutan. “Mereka biasanya mengkonsumsi daun kedondong segar sebagai sayuran atau direbus terlebih dahulu sebagai minuman obat tradisional atau loloh,” pungkas Wawan.