fbpx
Olahraga

Di Atas Pundak Para Skateboarder Cilik Ini, Indonesia Meletakkan Harapan Besar

Cerahnya olahraga skateboard di Indonesia
Aliqqa Novvery dan Bunga Nyimas (Foto: Liputan6.com)
126views
Waktu baca : 3 menit

Papan luncur kembali masuk menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan dalam Asiang Games 2018 ini. Sebelumnya, olahraga ini sudah dipertandingkan dalam Asian Games 2010 lalu di China. Namun, pada Asian Games 2014 di Incheon, cabang ini ditiadakan.

Tim papan luncur Indonesia sudah siap untuk bertarung dengan tim dari negara lain. Tim ini punya target yang tinggi. Target untuk meraih medali emas. Dan harapan itu mereka letakkan pada pundak seorang anak muda berusia 16 tahun bernama Sanggoe Darma Tanjung.

Ini jelas bukan target yang main-main. Pasalnya, Indonesia menghadapi negara-negara lain yang punya skateboarder level dunia dengan atlet-atlet yang masih sangat belia. Sebut saja Aliqqa Novvery (9 tahun), Bunga Nyimas (12), Jason Dennis (14 tahun), dan Sanggoe Darma Tanjung (16). Hanya Aldwin Angkawidjaya dan Pevi Permana yang senior. Masing-masing berusia 23 tahun dan 30 tahun.

Cerahnya olahraga skateboard di Indonesia
Aksi Bunga (Foto: Tempo.co)

Rabu (29/8) lalu, di Jakabaring Sport City Roller Sport, Palembang, tim itu bersemangat meluncur di atas papan masing-masing disaksikan Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga. Rela berpanas-panasan di atas lintasan demi nama Indonesia. Berusaha memberikan yang terbaik agar Indonesia mendapatkan medali.

Aliqqa dan teman-temannya turun di empat nomor. Bunga Nyimas di nomor park dan street putri, Aliqqa di street putri, Jason dan Pevi di park putra, serta Sanggoe dan Aldwin di street putra. Mereka bertarung dengan peserta lain yang pada umumnya adalah skateboarder profesional.

Cerahnya olahraga skateboard di Indonesia
Bunga Nyimas mempersembahkan medali perunggu (Foto: Istimewa)

Mereka berusaha meraih emas. Namun, tidak berhasil. Aliqqa gagal menyumbangkan medali. Sementara Nyimas meraih perunggu, Jason dan Pevi meraih perak dan perunggu, dan Sanggoe, yang diharapkan bisa menyumbangkan medali emas, membawa perak.

Setelah perlombaan, Sanggoe menangis. Menurut ayahnya, Rajes Hadena, Sanggoe menangis karena kecewa. Kecewa karena gagal memberikan yang terbaik.

“Dia mungkin merasa buat kita semua kecewa karena hanya bisa persembahkan perak. Bukan nangis karena sedih, tapi kecewa lantaran sudah kerja keras,” jelas Rajes seperti dilansir detikSport.

Cerahnya olahraga skateboard di Indonesia
Sanggoe Darma Tanjung (Foto: detikSport)

Target memang tidak terpenuhi. Namun, sejatinya, Indonesia bisa melihat masa depan yang cerah dari cabang olahraga ini. Bayangkan, Indonesia menurunkan skateboarder cilik untuk bertarung dengan skateboarder profesional dari negara Asia lainnya.

“Sebenarnya ini tidak gagal. Kita sebenarnya sudah mendapat medali emas itu lewat Sanggoe. Bisa saya katakan bahwa awal targetnya adalah lolos karena lawan yang dihadapi tidak sepadan. Lawan kami, tuh, istilahnya, profesional,” kata Charles J. Kusuma, sang pelatih.

Ia mengatakan bahwa Indonesia seharusnya bangga pada para atlet cilik. Lihat saja bagaimana Sanggoe yang masih berusia 16 tahun, tapi sudah menyumbangkan medali perak. Demikian juga Bunga Nyimas yang masih berusia 12 tahun, tapi sudah berhasil mengatasi tekanan dan meraih medali perunggu.

Cerahnya olahraga skateboard di Indonesia
Jason Dennis dan Pevi Permana Putra (Foto: detikSport)

“Dan bisa dilihat, di sini, hanya Pevi yang senior. Terakhir dia dapat medali perunggu di Makau (pada tahun) 2007. Setelahnya, ya, muka-muka baru. Artinya, Indonesia harus bangga punya mereka,” sambungnya.

Tantangan tim ini selanjutnya adalah bersaing dengan peserta dari berbagai negara dalam Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Pasti tidak mudah. Namun, melihat hasil perjuangan mereka dalam Asian Games 2018 ini, Indonesia tidak boleh takut untuk bertarung.