Berita

Bocah 8 Tahun Ini Raup Untung setelah Menjual “Mata Buaya”

Bocah 8 tahun susses berbisnis permen mata buaya
Angus Copelin-Walters (Foto: Jesse Thompson/ABC Radio Darwin)
35views

Seorang anak laki-laki dari Darwin, Australia, sedang menjadi perbincangan hangat publik di Australia dan dunia. Namanya Angus Copelin-Walters. Dalam beberapa hari belakangan ini, dia menjadi pusat perhatian karena besarnya keuntungan yang diraihnya, keinginannya untuk membeli 2 mobil Lamborghini, keputusannya untuk menjadi seorang filantropis.

Dilansir dari abc.net.au, Angus telah menjadi pengusaha yang sukses pada usia yang masih sangat belia: 8 tahun. Pada tahun pertamanya, ia meraup keuntungan yang tidak kecil. Bayangkan, untuk seorang anak sekecil itu, ia berhasil meraup keuntungan sebesar $10.000 atau setara dengan Rp100 juta pada tahun pertamanya.

Apa usahanya? Ia menjual kembang gula buatannya sendiri. Kembang gula berbentuk mata buaya itu diberi nama Croc Candy. Permen itu ia pasarkan di Darwin. Dari hari ke hari, jumlah pelanggannya bertambah.

Semuanya dimulai tahun lalu. Ketika itu, keluarga Walters berusaha mencari cara untuk membantu putra mereka mengatasi kesulitan belajarnya karena gangguan disleksianya. Mereka sempat bereksperimen dengan usaha lain. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menjual gula-gula buatan mereka sendiri.

“Saya ingin menjual lemon, tapi Ibu melarangnya. Dia menyarankan untuk menjual permen,” kata Angus.

Bocah 8 tahun susses berbisnis permen mata buaya
Permen Mata Buaya (Foto: Jesse Thompson/ABC Radio Darwin)

Mereka memutuskan untuk menjual permen mata buaya itu karena mereka yakin bahwa kualitas permen itu tidak kalah dengan permen lainnya.

“Ketika dia berbicara tentang permen dan lemon, daripada hanya membelinya dari toko, lebih baik membuat permennya sendiri. Ini sebuah hasil kerajinan tangan yang berkualitas baik,” ungkap ibunya.

 Angus lalu membeli tempat penjualan gula-gula dan mulai menjual gula-gula itu pertama-tama ke jaringan kecil terlebih dahulu seperti kepada teman-teman ibunya dan beberapa orang secara acak. Ia kemudian memasarkannya melalui Facebook. Baru setelah itu ia membuka sebuah gerai di salah satu pasar di Darwin.

Ternyata usahanya ini berjalan baik. Dari hari ke hari, jumlah pelanggannya bertambah banyak. Tidak hanya orang per orang, tetapi juga instansi pemerintahan. Dan ia sudah menganggap warga kota Darwin, tempat tujuan wisata di kota itu, dan kantor pemerintahan di wilayah utara Australia sebagai kliennya.

“Beberapa orang datang dan meminta pesanan massal untuk ulang tahun dan sebuah acara. Kemudian mereka menyusun perencanaan bagaimana memenuhi pesanan itu dan bagaimana dia bisa belajar dari itu,” jelas ibunya.

Bocah 8 tahun susses berbisnis permen mata buaya
(Foto: Jesse Thompson/ABC Radio Darwin)

Baru-baru ini, Angus merayakan ulang tahun pertama bisnisnya. Pada hari itu, ia menyumbangkan sejumlah uang kepada badan amal yang mendukung anak-anak yang menderita disleksia. Jumlahnya mencapai $1.000 atau setara dengan Rp10 juta.

Forum Croc Tank
Angus tidak berhenti bergerak. Keberhasilannya membangun bisnis mendorognya untuk berbuat yang lebih untuk orang lain. Menyumbang sejumlah uang adalah salah satunya.

Hal lain yang ia lakukan adalah mewadahi anak-anak seusianya yang ingin melakukan hal serupa. Karena ia tahu bahwa ada banyak anak yang ingin membangun bisnis sejak kecil. Ia lihat sendiri bagaimana seorang anak seusianya menjual perangkat membuat mainan slime.

“Aku ingin agar anak-anak bisa naik ke panggung dan memamerkan bisnis mereka,” katanya.

Terinspirasi dari acara televisi Shark Tank, Angus memutuskan untuk membuat acara sejenis dan memberi nama forum itu Croc Tank. Ibunya mendaftarkan merek dagang itu. Dan ia menerima hak paten atas acaranya itu dari Intellectual Property Australia pada awal tahun ini.

Bocah 8 tahun susses berbisnis permen mata buaya
(Foto: Jesse Thompson/ABC Radio Darwin)

Masalahnya adalah Sony Pictures Television Inc, yang berbasis di Amerika Serikat dan memiliki merek dagang Shark Tank, menentang pendaftaran merek dagang mereka. Namun, ibunda Angus tidak diam. Dia langsung menelepon pengacara perusahaan itu yang ada di Australia dan mengatakan bahwa mereka sedang berusaha melawan seorang bocah berusia 8 tahun.

“Saya menelepon pengacara perusahaan itu dan bilang, ‘Beginilah situasinya. Apakah kalian sadar?’ Pengacara itu tertawa dan berkata, ‘Oh, tidak. Kami tidak menyadarinya. Jadi, saya kira klien saya tidak akan mempersoalkan masalah ini.’ Jadi, itu sangat melegakan,” ungkapnya.

Angus dan Sony Pictures Television Inc telah mencapai kesepakatan tentang penggunaan merek dagang ini. Keluarga berharap agar hasil dari kesepakatan ini memungkinkan mereka membuat acara di bawah nama Croc Tank pada masa depan.