fbpx
Berita

Tsunami Selat Sunda: Cerita Seorang Pedagang Bakso Ikan

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
Kerusakan akibat tsunami (Foto: Antara)
136views

Sabtu, 22 Desember 2018. Sejak pagi hinggasore, laut di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten, itu tenang. Gelombangnya masihseperti biasa.

Tidak jauh dari pantai itu digelar sebuahpasar malam. Aneka wahana hiburan didirikan. Aneka jenis kuliner dijajakan digerobak-gerobak. Para warga kampung menikmati malam itu dengan gembira.

Pukul 21.30 WIB, listrik dipadamkan. Area dipasar malam kembali gelap. Namun, masih banyak anak kecil yang bermain di situ.Sedianya pasar malam itu tutup pada pukul 22.00 WIB.

Tidak lama setelah listrik padam, gelombanglaut yang tinggi itu mulai menyapu kampung itu.

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
(Foto: WWF Indonesia)

“Tiba-tiba gelombang putih naik. Tinggi.Tidak bersuara,” kata Zainuddin, seorang pedagang bakso ikan, seperti dilansir Tempo.co.

Dalam sekejap, teriakan dan rintihanterdengar di mana-mana. Semua orang lari pontang-panting.

“Semua orang berteriak-teriak memanggilanaknya. Sudah enggak tahu lagi. Semua gelap,” ungkap lelaki berusia 54 tahunitu.

Aneka wahana hiburan di pasar malam itululuh lantak seketika. Hanya kincir angina yang masih berdiri kokoh.

Baca :   Guru Honorer yang Unggah Ancaman Bunuh Jokowi Ditangkap Polisi

Ia lari terbirit-birit. Setelah tiba di tempat agak tinggi, ia melihat bagaimanapasar malam dan rumah-rumah di sekitar pantai luluh lantak diterjang gelombangdalam hitungan menit.

“Saya sempat kembali ke kedai bakso saya di pinggir pantai. Berharap adayang tersisa. Nyatanya habis semua,” desahnya.

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
(Foto: Tempo.co)

Belum sampai setengah jam setelah gelombangtinggi itu menyapu arena pasar malam itu, ada orang yang berteriak-teriak bahwagelombang akan naik kembali. Kembali ia berlari menyelamatkan diri. Namun,gelombang yang kedua itu tidak terlalu tinggi.

Gelombang itu menyapu hampir semua isi rumahwarga kampung. Zainuddin juga kehilangan gerobak dan kedainya.

“Ya, ini ada meja bulat yang tersisa. Mungkin saja masih bisa diperbaikidan dipakai lagi,” katanya sambil mengais-ngais sisa barang dengan tongkatbesi.