fbpx
Berita

Tsunami Selat Sunda: Cerita Seorang Pedagang Bakso Ikan

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
Kerusakan akibat tsunami (Foto: Antara)
104views

Sabtu, 22 Desember 2018. Sejak pagi hingga
sore, laut di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten, itu tenang. Gelombangnya masih
seperti biasa.

Tidak jauh dari pantai itu digelar sebuah
pasar malam. Aneka wahana hiburan didirikan. Aneka jenis kuliner dijajakan di
gerobak-gerobak. Para warga kampung menikmati malam itu dengan gembira.

Pukul 21.30 WIB, listrik dipadamkan. Area di
pasar malam kembali gelap. Namun, masih banyak anak kecil yang bermain di situ.
Sedianya pasar malam itu tutup pada pukul 22.00 WIB.

Tidak lama setelah listrik padam, gelombang
laut yang tinggi itu mulai menyapu kampung itu.

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
(Foto: WWF Indonesia)

“Tiba-tiba gelombang putih naik. Tinggi.
Tidak bersuara,” kata Zainuddin, seorang pedagang bakso ikan, seperti dilansir Tempo.co.

Dalam sekejap, teriakan dan rintihan
terdengar di mana-mana. Semua orang lari pontang-panting.

“Semua orang berteriak-teriak memanggil
anaknya. Sudah enggak tahu lagi. Semua gelap,” ungkap lelaki berusia 54 tahun
itu.

Aneka wahana hiburan di pasar malam itu
luluh lantak seketika. Hanya kincir angina yang masih berdiri kokoh.

Ia lari terbirit-birit. Setelah tiba di tempat agak tinggi, ia melihat bagaimana
pasar malam dan rumah-rumah di sekitar pantai luluh lantak diterjang gelombang
dalam hitungan menit.

Baca :   Fakta tentang Gempa dan Tsunami yang Menghancurkan Palu dan Donggala

“Saya sempat kembali ke kedai bakso saya di pinggir pantai. Berharap ada
yang tersisa. Nyatanya habis semua,” desahnya.

Cerita pedagang baixo akan tentang Tsunami Selat Sunda
(Foto: Tempo.co)

Belum sampai setengah jam setelah gelombang
tinggi itu menyapu arena pasar malam itu, ada orang yang berteriak-teriak bahwa
gelombang akan naik kembali. Kembali ia berlari menyelamatkan diri. Namun,
gelombang yang kedua itu tidak terlalu tinggi.

Gelombang itu menyapu hampir semua isi rumah
warga kampung. Zainuddin juga kehilangan gerobak dan kedainya.

“Ya, ini ada meja bulat yang tersisa. Mungkin saja masih bisa diperbaiki
dan dipakai lagi,” katanya sambil mengais-ngais sisa barang dengan tongkat
besi.