fbpx
Berita

Sejak 416, Sudah 12 Kali Terjadi Tsunami di Selat Sunda

Tsunami Selat Sunda dari tahun ke tahun
Kerusakan parah akibat terjangan tsunami (Foto: BNPB)
107views

Hingga Selasa (25/12) lalu, jumlah korban tsunamiSelat Sunda terus bertambah. Menurut data dari BNPB (Badan NasionalPenanggulangan Bencana), 429 orang meninggal dunia, 1.485 yang menderitaluka-luka, dan 154 orang masih belum ditemukan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, danGeofisika mengatakan bahwa erupsi anak Gunung Krakatau ditengarai sebagaipenyebab dari tsunami yang melanda pesisir Banten dan Lampung. Erupsidiperkirakan terjadi pada pukul 21.17 WIB dan mengakibatkan gelombang aruspasang naik.

Peristiwa ini tentu saja merupakan pukulantersendiri untuk Indonesia. Jika diperhatikan baik-baik, bukan baru kali initerjadi bencana alam menjelang akhir tahun. Beberapa tahun yang lalu pun telahterjadi bencana alam yang menyebabkan kerusakan parah dan merenggut nyawahingga ribuan orang di beberapa wilayah di Indonesia.

Tsunami Selat Sunda dari tahun ke tahun
Vila Tamaro di Pantai Carita luluh lantak (Foto: Antara)

Khusus untuk peristiwa tsunami, sepertidicatat dalam jurnal Geologi IndonesiaVolume III 4 Desember 2008—dalam artikel yang ditulis oleh Yudhicara dan K.Budiono berjudul “Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian Terhadap Katalog TsunamiSoloviev”, tsunami di Selat Sunda telah terjadi 12 kali. Sebelas di antaranyaterjadi dalam kurun waktu dari tahun 416—1958. Ada beberapa faktor penyebabnya.Salah satunya adalah aktivitas gunung berapi atau yang menjadi cikal bakalGunung Krakatau.

Baca :   Benarkah Mi Instan Mengandung Zat Penyebab Kanker?

Dari jurnal itu diketahui bahwa tsunami yangterjadi akibat erupsi gunung api bawah laut Krakatau terjadi pada tahun 416,1883, dan 1928. Tsunami yang terjadi karena gempa bumi terjadi pada 1722, 1852,dan 1958. Sementara tsunami karena kegagalan lahan berupa longsoran baik dikawasan pantai maupun di dasar laut terjadi pada tahun 1851, 1883, dan 1889.

Tsunami Selat Sunda dari tahun ke tahun
Anak Gunung Krakatau (Foto: Liputan6.com)

Sepanjang sejarah letusan, busur gunung api bawah lautKrakatau telah mengalami empat tahap pembangunan dan tiga tahap penghancuran.Kondisi geologi dasar laut Selat Sunda tergolong labil. Penyebabnya adalah perkembanganstruktur geologi aktif yang membentuk terban. Terban ini berpotensi menimbulkanlongsor akibat gempa bumi.

Sejarah mencatat bahwa letusan gunung berapi hinggamenyebabkan tsunami terjadi pada tahun 1883. Ketika itu, letusan GunungKrakatau menarik perhatian dunia karena material yang dikeluarkan menyebabkantsunami di Sumatera bagian selatan dan Jawa Barat bagian barat. Sedikitnya36.000 jiwa meninggal dunia akibat letusan dan gelombang tsunami.