fbpx
Berita

Kata Pengamat, Panggung Debat Pilpres Kedua Milik Jokowi

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto (Foto: Istimewa)
141views

Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai debat Pilpres kedua lebih baik dari debat perdana. Pangi berpendapat, panggung debat kedua kemarin menjadi milik capres petahana, Jokowi.

“Secara umum, kita melihat bahwa tidak ada pembaruan pikiran. Debat belum visioner, enggak ada harapan yang mampu menjawab kegelisahan dan kekhawatiran rakyat,” kata Pangi, dikutip dari tribunnews.com, Senin (17/2/2019).

Pangi Syarwi Chaniago, Analis Politik (Foto: Istimewa)

Pangi menjelaskan, ada beberapa catatan terkait debat capres putaran kedua. Pertama, Jokowi sangat detail menjelaskan soal strategi menjaga keseimbangan pangan dan harga, menyenangkan petani dan menjaga stok, soal nelayan, sumber daya laut, energi, lingkungan serta soal konektifitas infrastruktur dan konsistensi infrastruktur yang akan diteruskan.

“Performa Pak Jokowi cukup bagus, ada data dan lebih detail. Lebih tenang dan lebih menguasai apabila diturunkan pada level operasional, serta memberikan contoh sesederhana mungkin dan menjawab dengan data. Walaupun ada potensi ‘data keliru’ yang salah dan bisa ‘blunder‘ seperti kebakaran hutan dan soal data impor jagung yang disampaikan Jokowi,” katanya.

Presiden Joko Widodo (Foto: kompas.com)

Dalam debat putaran kedua, Pangi melihat Joko Widodo dan Prabowo Subianto menunjukkan gayanya yang berbeda. Jokowi tampil dengan gaya menyerang atau agresif. Sementara Prabowo tampil dengan gaya patriot, negarawan dengan mengeluarkan gagasan atau narasi besar. Walaupun belum tuntas dijelaskan secara operasional dan teknis. Misalnya mengatakan bahwa ‘kami punya falsafah dan strategi lain’.

Jokowi, menurut Pangi, tampil penuh percaya diri, menguasai materi, dan sempat melakukan serangan terukur dan bahkan serangan menohok pada Prabowo. Jokowiterlihat lebih banyak belajar dari debat pertama soal konten debat, bahasa atau gaya tubuh.  Lebih lancar menyampaikan data dan contoh se-sederhana mungkin pada masyarakat kelas bawah.

Presiden Joko Widodo (Foto: kompas.com)

“Jokowi semakin di atas angin ketika dalam beberapa kesempatan, Prabowo malah menunjukkan ‘persetujuan’ dengan argumentasi Jokowi. Prabowo gagal menunjukkan alternatif lain sebagai tawaran alternatif kebijakan. Sangat minim data, Prabowo terjebak pada narasi besar yang tidak mampu dan gagap dioperasionalkan ke dalam program yang lebih detail,” ucapnya.

Sementara Jokowi, sambung Pangi, langsung memberikan contoh soal ketegasannya soal penegakan hukum. Misalnya, langsung memberi contoh soal denda pada perusahaan yang merusak lingkungan. Jokowi langsung ke poin inti, menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana sudah berapa kilometer jalan tol yang dibangun, irigasi, ratusan waduk di bangun dan proyek infrastruktur lainnya.

Presiden Joko Widodo (Foto: liputan6.com)

Kedua, kata Pangi, Jokowi tampil lebih ofensif dan galak, Prabowo terkesan lebih bijak dan tak menyerang seperti Jokowi mengatakan Prabowo “jangan pesimis”. Kemudian, Jokowi terkesan menyerang pribadi Prabowo soal kepemilikan tanah sebesar 220.000 hektare lahan di Kalimantan dan 120.000 hektare di Aceh Tengah.

Baca :   Jawab Prabowo tentang Kebocoran APBN, JK: Hitung-hitungannya Keliru

“Prabowo menyempatkan di ujung debat mengklarifikasi bahwa ‘tanah saya kuasai ratusan ribu hektare benar, itu HGU milik negara, negara bisa ambil, dari pada jatuh ke tangan asing lebih baik saya kelola, saya nasionalis dan patriot’,” ujarnya.

Prabowo Subianto (Foto: Istimewa)

Ketiga, dalam debat kedua kemarin terlihat Prabowo terlalu “berbalas-kasihan” dan terlalu baik pada Jokowi.  Selama ini sang penantang memainkan strategi menyerang namun Prabowo tak lakukan, justru petahana yang ditagih janjinya tampil agresif menyerang. “Prabowo terlalu baik, memuji kerja Jokowi, mestinya Prabowo bisa kritik mengapa bapak ‘baru akan’ dan ‘sedang kami rencanakan’, lalu selama ini pak Jokowi ngapaian aja?,” tuturnya.

Prabowo mengulangi hal yang sama, yaitu “setuju” dengan petahana menyetujui langkah dan kebijakan pemerintah yang kongkrit dan yang sudah baik dilakukan pemerintah.

Prabowo Subianto (Foto: liputan6.com)

Keempat, sambung Pangi, sangat disayangkan mestinya Prabowo bisa membantah dan konfirmasi ulang apabila ada semburan data yang keliru dan diklarifikasi Prabowo. Namun Prabowo hanya diam dan tak membantah data Jokowi. Kebijakan Jokowi yang sudah baik “diamini” Prabowo.

“Mungkin Prabowo ingin memberikan pesan makna politis (political meaning) sehingga Prabowo tercitrakan sebagai calon presiden ‘negarawan’ dan ‘nasionalis’,” kata Pangi.

Prabowo Subianto (Foto: Istimewa)

Pangi berpendapat, seharusnya Prabowo tampil menyerang atau menyerang balik. Mengkritik soal infrastruktur Jokowi. Tetapi, Prabowo tidak memakai data yang kuat untuk membantah soal infrastruktur, kecuali hanya soal MRT Palembang dan Bandara Kertajati, Bandung.

“Mesti Prabowo bisa juga melebar pada narasi rendahnya harga sawit dan karet, beliau enggak mengambil momentum mengambil empati petani karet dan sawit pada konteks harga yang rendah. Tak hanya sekadar bagi-bagi 7 (tujuh) juta sertifikat, Prabowo bisa menanyakan soal lahan rakyat diambil investor dan pemilik modal,” paparnya.

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto (Foto: tirto.id)

Sebagai penantang, Pangi menilai Prabowo gagal mengeksprolasi kegagalan dan titik lemah kebijakan petahana. Jika Prabowo lebih cermat dengan analisis yang lebih mendalam Prabowo juga bisa memberikan serangan yang cukup merepotkan Jokowi.

“Oleh karena itu, situasi ini menjadikan panggung debat kedua kali ini seperti didominasi dan menjadi panggung milik Jokowi. Ditopang dengan basis data dan uraian capaian dan prestasi, pemaparan Jokowi terkesan lebih rapi, sehingga Jokowi terlihat lebih menguasai masalah,” pungkasnya.