fbpx
Berita

Jokowi Pindahkan Ibu Kota ke Luar Pulau Jawa

Jokowi pindahkan ibu kota negara ke luar Jawa
DKI Jakarta sudah sangat padat (Foto: Merdeka.com)
107views

Senin (29/4), Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas tentang pemindahan ibu kota. Rapat terbatas itu dilakukan di Kantor Presiden. Dalam rapat itu, lelaki yang akrab disapa Jokowi itu memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa.

“Presiden memilih alternatif ketiga, yaitu memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Ini barangkali salah satu keputusan penting yang dilahirkan hari ini,” kata Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Dalam rapat itu, Bappenas memberikan tiga alternatif ibu kota baru. Alternatif pertama adalah ibu kota tetap di Jakarta, tetapi akan dibuat distrik khusus pemerintahan. Kantor-kantor pemerintahan itu akan berpusat di kawasan Istana, Monas, dan sekitarnya. Alternatif ini ternyata hanya menguatkan Jakarta sebagai pusat segalanya di Indonesia.

“Dan dikhawatirkan dampak urbanisasi terhadap pertumbuhan ekonomi tidak optimal,” katanya.

Jokowi pindahkan ibu kota negara ke luar Jawa
Bambang Brodjonegoro (Foto: Setkab)

Alternatif kedua adalah memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah dekat Jakarta. Malaysia sudah melakukannya. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Putrajaya dengan Kuala Lumpur tetap sebagai ibu kotanya.

Bambang mengusulkan agar, jika ada lahan, ibu kota dipindahkan ke sekitar Jabodetabek. Namun, alternatif kedua ini tetap membawa masalah. Masalahnya adalah perekonomian Indonesia akan tetap terpusat di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Jokowi memilih alternatif ketiga, yaitu memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Sudah ada beberapa negara yang melakukan ini. Brasil, misalnya. Brasil memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia yang jauh di Amazon. Australia juga memindahkan ibu kota ke Canberra yang terletak di antara Sydney dan Melbourne.

Baca :   Pemerintah Kucurkan Rp90 Miliar untuk Bangun "Markas Avengers"

Ada dua skenario, menurut Bambang, terkait luas wilayah yang dibutuhkan pemerintah untuk memindahkan ibu kota. Yang pertama, mencari wilayah dengan luas 30 ribu hektare. Kedua, wilayah dengan luas 40 ribu hektare.

Jokowi pindahkan ibu kota negara ke luar Jawa
Simpang Susun Semanggi dengan latar belakang Jakarta yang padat (Foto: Liputan6.com)

Luas wilayah sangat tergantung pada jumlah penduduk di kota tersebut. Pada skenario pertama, jumlah penduduk sebanyak 1,5 juta jiwa. Dan pada skenario kedua, jumlah penduduk sebanyak 900 ribu jiwa.

Jokowi meminta para menterinya untuk membuat skema pembiayaan yang tidak memberatkan APBN, tapi melibatkan banyak partisipasi pihak ketiga dengan kontrol dari pemerintah.

“Kita bisa melakukan kerja sama, baik dengan BUMN, swasta secara langsung, maupun kerja sama dalam bentuk KPBU. Baik untuk prasarana infrastruktur, gedung-gedung kantor, maupun fasilitas pendukung komersial dan wilayah pemukiman,” kata Bambang.