fbpx
Berita

Inilah Dekompresi, Perenggut Nyawa Syachrul Anto

Dekompresi: gangguan utama para penyelam
Ilustrasi penyelam (Foto: Istimewa)
481views

Banyak penyelam profesional diterjunkan untuk mencari i korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.  Salah satunya adalah Syachrul Anto, anggota Indonesian Diving Rescue Team (IDRT) di bawah koordinasi Basarnas. Bersama teman-temannya, ia berjuang untuk mencari dan mengevakuasi korban pesawat yang jatuh pada Senin (29/10) lalu itu.

Dalam perjuangan mencari korban, Jumat (2/11) lalu, Syachrul meninggal dunia. Ia diduga mengalami kecelakaan tenggelam pada saat mengevakuasi penumpang Lion Air JT-610. Ia kemudian dibawa ke RSUD Koja, Jakarta Utara, pada pukul 22.10 WIB. Saat itu, ia tidak sadarkan diri. Pada pukul 22.30 WIB, tim dokter yang menangani Syachrul menyatakan bahwa relawan itu telah meninggal dunia.

Syachrul diduga kuat mengalami masalah dekompresi saat menyelam. Apakah dekompresi itu? Seberapa berbahayanya gangguan itu?

Dekompresi: gangguan utama para penyelam
Syachrul Anto (Foto: Facebook)

Dekompresi, seperti dilansir dari CNN Indonesia, adalah gangguan yang biasanya dialami oleh penyelam. Gejalanya berupa pusing, lemas, hingga sesak napas. Gangguan ini terjadi ketika ada perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat. Hal ini membuat nitrogen dalam darah membentuk gelembung. Dan gelembung inilah yang pada akhirnya menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah dan organ.

Jika gelembung itu terbentuk di dalam atau di area dekat sendi, akan timbul rasa nyeri pada otot. Jika jumlah gelembung ini terlalu banyak, tubuh akan bereaksi di area tulang punggung ataupun otak.

Baca :   Korban Tsunami Selat Sunda: 429 Tewas, 154 Hilang

Kondisi yang lebih berbahaya terjadi ketika gelembung masuk ke aliran darah pembuluh vena. Pada kondisi ini, penyelam bisa pingsan. Bahkan bisa sampai meninggal.

Dekompresi: gangguan utama para penyelam
Kepala Basarnas, Muhammad Syaugi, memberikan keterangan tentang kematian Syachrul Anto (Foto: Basarnas)

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko dekompresi. Beberapa di antaranya adalah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Berat badan berlebih atau obesitas, usia di atas 30 tahun, dan riwayat penyakit jantung juga bisa meningkatkan risiko dekompresi.

Bagaimana mengatasi masalah ini? Dekompresi bisa diobati dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah penanganan darurat di tempat.

Yang paling pertama yang dilakukan adalah membaringkan pasien dalam posisi telentang. Tubuhnya harus dikeringkan dan dihangatkan dengan selimut ketika suhu tubuh menurun.

Selain itu, pengobatan dengan terapi oksigen hiperbarik juga digunakan untuk menangani penyakit ini. Dalam terapi ini digunakan alat berupa tabung atau kamar khusus untuk menstimulasi. Namun, yang perlu diketahui adalah terapi hiperbarik ini sangat tergantung pada keparahan gejala.