fbpx
Berita

Begini Mahasiswa RI Meloloskan Diri dari Teror di Masjid New Zealand

Cerita WNI lolos dari aksi brutal di masjid di New Zealand
Polisi berjaga di area Masjid (Foto: EPA)
125views

Jumat (15/3) lalu, dunia dikejutkan dengan penembakan brutal di 2 masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, yaitu Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Empat puluh satu orang tewas di Masjid Al Noor, tujuh orang di Masjid Linwood, dan satu orang tewas di rumah sakit setempat. Sementara itu, 48 orang mengalami luka-luka, tapi hanya 39 orang yang dirawat di rumah sakit. Dari 39 orang itu, 11 orang di antaranya menjalani perawatan intensif.

Seorang mahasiswa program doktoral asal Indonesia yang sedang menjalani salat Jumat di Masjid Al Noor berhasil meloloskan diri dari aksi brutal Brenton Tarrant, warga Australia berusia 28 tahun, itu. Namanya Irfan Yunianto. Ketika dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Sabtu (16/3) siang, lelaki yang menekuni bidang onkologi molekuler ini sedang berada di rumah salah seorang rekannya di Christchurch untuk memulihkan keadaannya. Secara psikologis, ia benar-benar terguncang. Apalagi ketika ia menyaksikan video penembakan yang beredar.

“Saya melihat video itu langsung mual. Agak tertekan. Sekarang sudah lebih baik. Banyak support dari pihak universitas dan teman-teman. Itu yang sangat membantu,” katanya.

Berikut ini cerita bagaimana Irfan bisa menyelamatkan diri dari aksi brutal Brenton Tarrant itu.

‘Allah mengarahkan saya’ 

 Saya datang salat Jumat kira-kira pukul 13.30, 13.35. Saya lihat di ruang salat utama agak lengang. Mungkin karena sebelumnya hujan deras, jemaah telat datang.

 Biasanya kalau saya melihat lengang, ya, sudah salat saja di situ. Tapi ini, somehow, alhamdulillah, Allah mengarahkan saya untuk belok kanan ke ruang kecil. Ruang itu biasanya dipakai untuk seminar, pertemuan.

Karena saya datang naik sepeda, pakai jaket, saya bisa menaruh jaket di situ tanpa mengganggu orang. Di ruang itu ada pintu emergency exit.

Kronologi aksi brutal di masjid di New Zealand
(Foto: BBC)

Lalu saya salat tahiyatul masjid dan mendengar khotbah sedikit. Tidak sampai lima menit dari pertama masuk masjid, saya mendengar suara letusan ‘duar… duar.’

Saat itu, insting saya mengatakan mungkin ada trafo meledak. Tapi ada suara tembakan beruntun. Dor… dor… dor… dor. Orang-orang mulai panik.

Karena posisi saya persis berada di depan pintu emergency exit, saya langsung buka tanpa halangan. Orang-orang pada keluar, saya ikut lari. Kami ke luar, lari ke parkiran mobil di belakang. Luas. Semua orang panik, kemudian memanjat pagar.

Di situ, ada teman saya yang sekolah penerbangan. ‘Ke sini, ke sini.’ Ditolong saya memanjat pagar. Lalu kami sembunyi di rumah penduduk yang pagarnya menempel dengan pagar masjid. Ada sekitar 15 orang. Kami melihat dua orang korban. Satu luka tembak di bahu kanan. Wah, itu parah.

Saya sempat khawatir. Bagaimana bila beliau meninggal? Dia sudah mengucap syahadat dan seterusnya. Tapi ada orang lain yang menolong, menghentikan pendarahan.Terus ada satu korban; remaja  

Termasuk saya, ada tiga warga Indonesia di rumah warga tersebut.

Cerita WNI lolos dari aksi brutal di masjid di New Zealand
Para korban dibawa ke rumah sakit (Foto: REUTERS)

Kami menghubungi paramedis yang datang menjemput dua korban tadi. Kami nggak berani lihat ke luar karena kami takut terkena peluru nyasar atau bahkan kalau pelakunya mengejar sampai ke parkiran belakang.

Kami hanya mendengar polisi menyisir di parkiran belakang. Mereka melihat kami kemudian berteriak ‘Get into the house!’ Saya menghubungi supervisor dan KBRI. Di dalam rumah, kami saling menguatkan.

Sekitar lima jam kami ada di rumah warga tersebut. Dia pria pensiunan dokter mata berusia 60-an tahun. Selama sembunyi di rumah itu, tuan rumahnya menyalakan televisi. Kami melihat laporan berita. Wah, sudah. Memang terguncang karena teringat ada kerabat, keluarga yang jadi korban. Ada yang meninggal di dalam. Kami coba saling support.

Sekitar jam 19.00 baru kami dievakuasi sama polisi. Saya diantarkan ke rumah. Sampai di rumah jam 19.30.