fbpx
Teknologi

Benarkah AI Google Bisa Prediksi Kapan Seseorang Meninggal Dunia?

AI Google bisa prediksikan kematian seseorang
Ilustrasi (Foto: vecer.mk)
79views
Waktu baca : 3 menit

Berita terkini Jelujur.com – Kematian didefinisikan sebagai berhentinya semua fungsi biologis yang mendukung kehidupan sebuah organisme. Jadi, bukan hanya satu atau beberapa fungsi biologis yang berhenti, melainkan semuanya. Dan hal itu bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari semakin tuanya usia hingga bunuh diri atau kecelakaan fatal.

Dalam banyak hal, tidak ada orang yang tahu kapan seseorang atau bahkan dirinya sendiri akan mati. Pada titik ini, kematian adalah sebuah misteri. Namun, dalam beberapa hal tertentu, orang bisa menebak kapan orang itu akan meninggal dunia. Entah karena firasat, entah karena pengalaman, dan entah karena ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baru-baru ini, seperti yang tertulis dalam sebuah makalah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, kecerdasan buatan atau artificial intelegent (AI) ciptaan Google diklaim bisa memprediksi kapan seseorang akan meninggal dunia. AI bisa melakukannya dengan cara menganalisis catatan kesehatan elektronik seseorang.

AI Google bisa prediksikan kematian seseorang
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Dilansir dari Futurism, para peneliti melakukan uji coba dengan menggunakan dalam data dari 216.000 pasien dewasa dari 2 rumah sakit di Amerika Serikat. Dari uji coba itu diketahui bahwa algoritma bisa memprediksi kapan pasien harus dirawat di rumah sakit hingga waktu kematiannya. Selanjutnya teknologi ini akan digunakan oleh para ahli untuk memprioritaskan perawatan pasien, menyesuaikan rencana perawatan, hingga menangkap keadaan darurat medis.

“Kami tertarik untuk memahami apakah pembelajaran yang mendalam dapat menghasilkan prediksi yang valid di berbagai macam masalah dan hasil klinis. Oleh karena itu, kami memilih hasil dari domain yang berbeda, termasuk hasil klinis yang penting (kematian), ukuran standar kualitas perawatan (readmissions), ukuran pemanfaatan sumber daya (lama tinggal), dan ukuran pemahaman masalah pasien (diagnose),” tulis para peneliti dalam laporan mereka seperti dikutip dari Fox News.

Akurasi Tinggi
Dalam prediksinya, kecerdasan buatan milik Google ini punya akurasi yang tinggi. Akurasi prediksi kematian pasien di rumah sakit pertama menunjukkan angka hingga 95%. Sedangkan di rumah sakit kedua hingga 93%.

“Ini secara signifikan lebih akurat daripada model prediksi tradisional. Model ini mengungguli model prediktif tradisional yang digunakan secara klinis dalam semua kasus. Kami percaya bahwa pendekatan ini dapat digunakan untuk membuat prediksi yang akurat dan scalable untuk berbagai skenario klinis,” tulis para peneliti.

AI Google bisa prediksikan kematian seseorang
Ilustrasi riwayat kesehatan (Foto: Istimewa)

Dalam salah satu studi kasus, algoritma Medical Brain ini menunjukkan seorang wanita penderita kanker payudara metastasis 19,9% kemungkinan meninggal di rumah sakit dengan menggetarkan 175.639 poin data dari catatan medisnya. Ini berbeda jauh dengan prediksi tradisional yang dilakukan. Angka Peringatan Dini rumah sakit hanya menunjukkan 9,3 persen peluang untuk meninggal dunia. Sayangnya, kecerdasan buatan itu benar. Dalam dua minggu, pasien tersebut sudah meninggal.

Kerahasiaan Data
American Medical Association mengakui bahwa menggabungkan AI dengan dokter manusia dapat membawa manfaat yang signifikan. Meskipun demikian, asosiasi medis ini menegaskan bahwa alat-alat AI harus “berusaha untuk memenuhi beberapa kriteria utama, termasuk transparan, berbasis standar, dan bebas dari bias.”

AI Google bisa prediksikan kematian seseorang
Ilustrasi (Foto: iStock)

Dr. Mikhail Varshavski, seorang dokter perawatan keluarga, juga mengakui manfaat dari teknologi ini. Namun, ia menegaskan tentang pentingnya melindungi privasi data pasien. Selain itu, penggunaan teknologi ini perlu diawasi secara teliti.

“Hal yang mengkhawatirkan bagi saya adalah apa yang terjadi dengan data ini dan siapa yang memiliki data ini? Saya berharap, sebagai dokter, bahwa perusahaan-perusahaan ini menggunakan data untuk menguntungkan pasien, bukan perusahaan itu sendiri,” katanya.