Berita

6 Fakta tentang Lalu Muhammad Zohri, Juara Dunia Atletik dari Lombok

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
Lalu Muhammad Zohri (Foto: Twitter/@LSohri)
120views

Rabu (11/7) petang lalu waktu Tampere, Finlandia, atau Kamis (12/7) dini hari waktu Indonesia, telah lahir seorang juara dunia dari Indonesia. Namanya Lalu Muhammad Zohri. Remaja berusia 18 tahun dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu mengharumkan nama Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Atletik U-20.

Berlaga dalam nomor 100 m, Lalu harus bersaing dengan 7 anak muda yang merupakan yang terbaik di negara masing-masing. Mereka adalah Dominic Ashwell (Inggris), Daisuke Miyamoto (Jepang), Michael Stephens (Jamaika), Eric Harrison (Amerika Serikat), Anthony Schwartz (Amerika Serikat), Henrik Larsson (Swedia), dan Thembo Monareng (Afrika Selatan). Namanya disebut paling akhir karena ia menempati lintasan lari (lane) paling luar. Lintasan itu sering diasosiasikan dengan lintasan atlek nonunggulan.

Siapa yang menyangka bahwa atlet yang disebut namanya paling akhir itu justru membuyarkan harapan mereka untuk menjadi juara. Anak nelayan itu bahkan mempecundangi dua wakil dari Amerika Serikat yang sangat diunggulkan dalam kejuaraan ini. Ia dijuluki “the new Usain Bolt” karena menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10.18 detik (dengan percepatan angin searah pelari 1,2 m/detik).

Berkat Lalu, nama Indonesia diperhitungkan dalam kejuaraan ini. Pasalnya, dilansir dari situs resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF), dalam 32 tahun sejarah kejuaraan ini, penampilan terbaik atlet Indonesia adalah finis pada posisi ke-8 pada 1986. Namun, kini, Indonesia adalah yang terbaik.

Berikut ini 6 fakta menari tentang Lalu yang harus kamu ketahui:

Anak seorang nelayan

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
(Foto: asureedge.net)

Lalu lahir di Karang Pansor, 1 Juli 200. Ia tumbuh dan besar dalam sebuah keluarga sederhana. Ayahnya, Lalu Ahmad Yani, adalah seorang nelayan. Di luar itu, pekerjaan sampingannya adalah seorang buruh tani.

Tinggal di rumah sederhana

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
(Foto: Istimewa)

Lalu adalah bungsu dari empat bersaudara. Salah seorang kakaknya sudah meninggal dunia. Saat ini, ia tinggal bersama kakaknya, Baiq Fazilah dan Lalu Ma’rif. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana.

“Zohri, kalau pulang, tidur di rumah bedek peninggalan orang tua kami. Kami sudah usulkan bantuan program rumah kumuh dari pemerintah Lombok Utara, tapi belum ada kabar sampai saat ini,” kata Lalu Ma’arif seperti dilansir grid.id.

Yatim piatu

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
Baiq Fazilah, kakak Lalu, menunjukkan medali yang dimenangi Lalu (Foto: Kompas)

Beberapa hari setelah ia memenangi kejuaraan itu, foto-foto yang memperlihatkan keadaan rumahnya tersebar melalui internet. Dan ia tahu hal itu.

“Rumahku yang dipublikasikan ke mana-mana (emoticon). Semoga Ayah Ibu di alam sana boleh senang (emoticon),” tulisnya melalui akun Twitter-nya, @LSohri.

Dari cuitan itu orang akhirnya tahu Lalu adalah seorang anak yatim piatu. Ayahnya meninggal dunia tahun lalu. Sementara ibunya, Saeriah, meninggal dunia tiga tahun lalu.

Anak yang malas

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
Lalu bersama dua pelari Amerika (Foto: Istimewa)

Ketika masih duduk di bangku SMP, Lalu tercatat sebagai siswa yang malas. Saking malasnya, beberapa kali gurunya harus datang ke rumahnya untuk menjemputnya.

Pelari pengganti

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
(Foto: Istimewa)

Pada awalnya, Lalu dipilih bukan sebagai pelari utama. Ia adalah atlet pengganti bagi Iswandi, seorang atlet lari estafet 4×100 m, yang mengalami cedera.

Sering menjadi juara

Fakta tentang Calu Muhammad Zohri, Juara dunia atletik
(Foto: Twitter/@LSohri)

Lalu bergabung dengan Pelatnas pada akhir tahun 2017. Sebelum bergabung dengan pelatnas, ia sudah sering menjuarai setiap perlombaan yang ia ikuti. Setelah bergabung dengan pelatnas, ia juga menjuarai beberapa kejuaraan.

Pada Februari lalu, ia dikirim untuk mengikuti uji tanding Asian Games 2018. Ia melewati garis finis dengan catatan waktu 10,32 detik. April lalu, ia dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti uji tanding. Ia menyumbangkan medali perak dengan catatan waktu 10,33 detik. Dan sebulan sebelum mengikuti IAAF World U-20 Championship, ia mengikuti Kejuaraan Asia Atletik Yunior 2018 di Jepang. Ia menyumbangkan medali emas berkat catatan waktu 10,27 detik.