Ilmu Pengetahuan

21 Maret: Hari Tanpa Bayangan di Indonesia

21 Maret: Hari tanpa bayangan di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Getty Images)
115views

Berita terkini Jelujur.com – Sebuah fenomena alam yang menarik akan terjadi di Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Tepatnya pada 21 Maret nanti. Pada hari itu, Matahari akan berada tepat di atas garis ekuator (khatulistiwa).

Berada tepatnya Matahari di atas garis khatulistiwa menyebabkan tidak ada bayangan yang terlihat. Namun, hal ini tidak terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Hanya terjadi di beberapa wilayah saja.

“Fenomena ini disebut hari nirbayangan atau hari tanpa bayangan,” kata Jasyanto, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir detik.com, Jumat (16/3).

Pada 20 Maret pukul 23.15 WIB nanti, Matahari akan tepat berada di atas ekuator. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan vernal equinox (vernus = musim semi, equus = sama, noct = malam). Disebut demikian karena pada hari itu, durasi siang dan malam di seluruh dunia akan sama, yakni 12 jam. Di daerah ekuator, misalnya, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Matahari akan berada di atas kepala saat tengah hari vernal equinox, sehingga sebuah tugu tegak akan tampak tanpa bayangan.

Pada 21 Maret, Matahari akan mencapai titik puncak/kulminasi pada pukul 11.50 WIB. Setelah itu, Matahari akan turun perlahan hingga terbenam di titik berat sekitar 6 jam kemudian. Fenomena serupa akan terjadi pada autumnal equinox (autumn = musim gugur), yakni pada 23 September mendatang.

21 Maret: Hari tanpa bayangan di Indonesia
Tugu khatulistiwa (Foto: indonesianelok.com)

Tahun ini, Indonesia mengalami hari nirbayangan sebanyak 2 kali. Yang pertama terjadi pada 21 Maret dan yang kedua pada 23 September mendatang. Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong, sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Oleh karena itu, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan selama setengah tahun sisanya.

“Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi. Misalnya, empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia,” katanya.

Hari nirbayangan ini tidak hanya terjadi di Pontianak atau kota-kota yang dilewati garis ekuator, tetapi juga dapat terjadi di kota-kota yang berada di antara 23,4 Lintang Selatan dan 23,4 Lintang Utara.

“Sebagai contoh, hari nirbayangan terjadi di Kota Denpasar pada 26 Februari dan 16 Oktober,” tutur Jasyanto.

Pada tanggal 21 Maret itu, LAPAN akan berpartisipasi dalam Festival Hari Nir Bayangan di Kota Pontianak. Festival tersebut akan berlangsung hingga 23 Maret. Pada saat itu, LAPAN akan menyajikan pertunjukkan planetarium mini, pameran, dan ceramah edukasi.